Senin, 30 Januari 2012

LAPORAN NUTRISI


BAB I. PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Pakan merupakan kebutuhan terbesar dalam budidaya perikanan. Biaya produksi untuk pakan mencapai 70 % dari total biaya produksi. Dewasa ini volume pakan komersil di pasar sangat beraneka baik jenis maupun komposisi. Hal ini tentu menuntut sensivitas dan selektifitas yang tinggi agar mampu memilih pakan yang berkualitas untuk budidaya perikanan. Sejauh ini isu terpenting terkait masalah pakan ikan adalah kesulitan memperoleh pakan yang memilki nutrisi dan sifat sesuai dengan kebutuhan serta kondisi biologis ikan / biota kultur itu sendiri. Sehingga hal ini menjadi salah satu inhibitor dalam pengembangan budidaya ikan
Pakan ikan dikatakan bermutu jika mengandung nilai nutrisi dan gizi yang dibutuhkan oleh ikan. Menurut Murtidjo (2001) bahwa Pakan yang berkualitas mengandung 70 % protein, 15 % karbohidrat, 10 % lemak, dan 5 % vitamin, air, dan mineral. Suryaingsih (2010) menyatakan bahwa kualitas pakan tidak hanya sebatas pada nilai gizi yang dikandungnya melainkan pada sifat fisik pakan seperti kelarutannya, ketercernaanya, warna, bau, rasa dan anti nutrisi yang dikandung. Kualitas pakan juga dipengaruhi oleh bahan baku yang digunakan. Pemilihan baku yang baik dapat dilihat berdasarkan indikator nilai gizi yang dikandungnya; digestibility (kecernaanya); dan biovaibility (daya serap). Pakan yang berkualitas  akan mendukung tercapainya tujuan produksi yang optimal.  Oleh karena itu pengetahuan tentang nutrisi, gizi, komposisi serta kualitas secara fisik perlu diketahui.
Ilmu nutrisi pakan ikan tidak terbatas pada cara pembuatan pakan saja. Pengetahuan tentang formulasi bahan dalam pembuatan pakan juga perlu diketahui. Komposisi suatu pakan perlu kita ketahui baik sebelum atau sesudah pembuatan pakan sebagai database dalam pembuatan pakan. Sebelum pembuatan pakan bobot masing-masing bahan harus diketahui untuk menghasilkan jumlah pakan dengan nilai nutrisi tertentu. Demikian juga setelah dalam bentuk pakan. Berdasrkan uraian sebelumnya maka pengetahuan mengenai cara pembuatan pakan (penyediaan bahan baku) dan teknik pengujian pakan (uji proksimat, uji daya tahan, uji daya apung, uji organolipstik, uji biologis)  perlu dilatih melalui kegiatan praktikum.

1.2.   Tujuan Praktikum
      Adapun tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui cara persiapan bahan baku dan cara pembuatan pakan.
2.      Mengetahui uji proksimat kadar air.
3.      Mengetahui uji proksimat lemak.
4.      Mengetahui teknik uji kualitas fisik pakan.
5.      Mengetahui teknik uji biologis kualitas pakan.















BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teknik Pembuatan Pakan
2.1.1. Bahan baku pakan
  Air dalam pakan atau bahan baku pakan tersedia secara alami dalam pakan atau bahan baku pakan. Air yang berasal dari atmosfer pada bahan kering dapat mencapai 6 - 10 %. Kadar air yang rendah memudahkan dalam penyimpanan pakan/ bahan baku pakan. Kandungan air 12 - 13 % pada pakan lebih mudah berjamur atau rusak. Kandungan bahan kering diukur dengan cara mengoven bahan yang ditempatkan dalam cawan khusus pada suhu 105 oC  selama 24 jam. Kandungan bahan kering dihitung sebagai selisih antara 100% dengan persentase kandungan air (Fakhrul, 2009).
   Tepung ikan adalah sumber protein hewani yang baik dan sumber mineral serta kalsium dam fosfor. Protein tepung ikan memiliki kualitas yang baik karena mengandung asam amino esensisal yag sangat dibutuhkan ikan. Pertumbuhan ikan akan baik apabila tepung ikan yang digunakan berkualitas. Pemakaian tepung ikan dengan kadar proteinnya lebih dari 55 % sangat dianjurkan (Mahyuddin, 2008).
Jagung banyak mengandung karotin pro vitamin A. Di pasaran jagung yang digunakan untuk campuran formulasi pakan ialah jagung giling halus, baik dari jenis jagung putih, jagung kuning, maupun jagung agak merah. Penggunaan jagung giling diperbolehkan hanya dengan jumlah 10 - 30%. Penggunaan jagung yang terlalu banyak dalam  komposisi pakan tidak baik karena menyebabkan kandungan protein pakan rendah, sebaliknya kandungan protein akan menjadi tinggi (Anonim, 2010).
Tepung kedelai yang dibuat dari bahan biji utuh memiliki kandungan lemak yang tinggi. Namun, tepung kedelai yang dibuat dari bungkil memilki kandungan lemak yang rendah atau bebas lemak. Biji kedelai harus dipilih yang baik dan dibersihkan dari kotoran-kotoran. Setelah itu biji kedelai direndam selama 16 jam dan direbus dalam air mendidih selama 90 menit. Kedelai yang sudah direbus dikeringkan di bawah sinar matahari terik atau dalam oven dengan suhu  70 0C (Mudjiman, 2008).

  2.1.2. Perekat pakan
               Jagung hampir sama dengan tepung terigu yaitu sebagai sumber karbohidrat yang mudah dicerna karena tidak mengandung sumber serat kasar selain itu jagung dapat digunakan sebagai perekat untuk menjaga stabilitas kandungan air dalam pakan. Beberapa bahan yang dapat dijadikan sebagai perekat pakan ikan adalah tepung terigu, sagu, jagung, agar-agar, gelatin, dan tepung kanji (Mudjiman, 2008).

2.1.3. Proses pembuatan pakan
Tahapan dalam pembuatan pakan adalah dengan memulai pada persiapan bahan, pengeringan kadar air dalam bahan, penggilingan bahan baku menjadi tepung , penimbangan bahan baku, pencampuran bahan baku pakan menjadi adonan dan proses pencetakkan pakan. Hasil cetakan merupakan pellet dalam bentuk basah, oleh karena itu dilakukan penjemuran lagi hingga kering (Kordi, 2006).
Tujuan pemasakan baik perebusan maupun pengukusan dilakukan untuk mengurangi kadar air dan mempertahankan mutu daging yaitu tekstur yang padat dan kompak. Akan tetapi proses perebusan yang terlalu lama dapat juga membuat komponen biokimia suatu bahan rusak atau larut karena panas. Komponen biokimia seperti protein dan enzim sanagat rentan terhadap panas. Penghalusan bahan (pembuatan tepung) bertujuan untuk memperoleh ukuran yang relatif halus dan seragam. Bahan baku yang halus, selain mudah dicerna juga menghasilkan pakan yang relatif lebih kompak. Pengeringan pakan hingga kadar air 9 – 12 % sangat penting karena pakan dengan kadar air yang tinggi mudah ditumbuhi mikroba (Adiyanto, 2010)

2.2. Pengujian Mutu Pakan
2.2.1. Uji fisik
         Metode pengujian pakan ikan dapat dilakukan dengan pengamatan in dera penciuman, indera peraba dan indera penglihat. Pengamatan dengan indera penciuman dapat menentukkan aroma khas dari pakan. Pengamatan dengan indera peraba seperti lidah dan kulit dapat menentukkan kualitas penggilingan pakan. Pengamatan dengan indera penglihatan meliputi warna dan ukuran pakan (Nurafni, 2010).
                 Berdasarkan evaluasi fisik, pakan buatan dianggap berkualitas baik apabila mempunyai ukuran partikel bahan baku yang halus dan seragam serta homogenitas tinggi. Selain itu, ukuran pakan harus sesuai dengan ukuran ikan. Demikian juga, kekerasan dan ketahanan dalam air (water stability) sesuai bagi kebutuhan ikan. Daya apung pakan buatan dapat diukur dengan menjatuhkan atau menebarkan pakan tersebut kedalam benjana kaca yang telah diisi air hingga kedalam 15 – 25 cm. Waktu yang diperlukan oleh pakan sejak ditebarkan hingga tenggelam di dasar bejana merupakan gambaran mengenai daya apung akan buatan tersebut. Kekerasan pakan buatan dapat di uji dengan memberikan beban dengasn bobot tertentu hingga pakan tersebut hancur. Smakin berat bobot beban yang dapat ditahan oleh pakan, berarti pakan buatan tersebut semakin keras. Pakan buatan dengan kekerasan lebih tinggi dibuat dari bahan baku yang relatif lebih halus (Mamduh, 2010).
            . Pengujian secara sensoris/organoleptik dilakukan dengan sensasi dari rasa, bau/ aroma, penglihatan, sentuhan/rabaan, dan suara/pendengaran pada saat makanan dimakan. Sebagai contoh rasa enak adalah hasil dari sejumlah faktor pengamatan yang masing-masing mempunyai sifat tersendiri. Contoh keterlibatan panca indera dalam uji organoleptik, yaitu  Rasa (taste) dengan 4 dasar sifat rasa, yaitu manis, asam, asin dan pahit; Tekstur (konsistensi) adalah hasil pengamatan yang berupa sifat lunak, liat, keras, halus, kasar, dan sebagainya; Bau (odour) dengan berbagai sifat seperti harum, amis, apek, busuk, dan sebagainya; Warna merupakan hasil pengamatan dengan penglihatan yang dapat membedakan antara satu warna dengan warna lainnya, cerah, buram, bening, dan sebagainya (Hernawati, 2009).
2.2.2. Uji kimia
        Pada umumnya, tujuan pengujian pakan buatan secara kimiawi adalah untuk mengetahui kandungan zat – zat gizi yang terdapat didalam pakan. Pengujian pakan secara kimiawi ini umumnya dilakukan dilaboratorium kimia. Ada beberapa yang dilakukan dalam pengujian kimia ini adalah analisa proksimat, analisi nitrien, uji kimia untuk mengetahui kualitas pakan, skor kimia dan IAAI (Sugema, 2006).
2.2.3. Uji Biologis
Pengujian biologis kualitas pakan dilakukan untuk mengetahui pengaruh nutrisi bahan baku yang dibuat dengan mengamati pertumbuhan ikan selama beberapa waktu. Dalam praktiknya, pakan alami atau pakan buatan diberikan kepada ikan dengan dosis 3 - 5 % bobot ikan per hari. Pembarian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang atau malam. Tatapi dalam terapan budidaya banyak pula disarankan untuk memberikan pakan kapan saja selagi ikan mau makan. Dengan demikian pakan yang diberikan lebih dari 3 - 5 %. Hal ini dapat dilakukan dengan syarat pakan termakan secara optimal oleh ikan (Anonim, 2010). 
Ikan nila merupakan ikan omnivore. Kebiasaan makan ikan nila saat benih ialah memakan di perairan dangkal sedangkan setelah dewasa nila cenderung mampu mencari makan hingga dasar perairan, untuk itu pakan yang baik untuk nila adalah pakan yang mengapung dan tahan lama di air. Pakan ikan nila adalah pakan buatan dapat berupa pellet dengan kadar protein 28 - 35% dan kadar lemak tidak lebih dari 3%  (DKPD Sulteng, 2006).


BAB III. CARA PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
              Persiapan bahan baku pakan dilaksanakan pada tanggal 13 - 19 November 2011; pembuatan pakan dilaksanakan pada tanggal  20 November 2011; Uji proksimat air, uji daya apung dan waktu tenggelam, uji daya tahan pakan dan uji organoleptik dilaksanakan pada 25 November 2011; uji proksimat lemak dilaksanakan pada 28 November 2011; dan uji Biologis dilaksanakan pada tanggal 26 November-16 Desember 2011. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

3.2. Alat dan Bahan Praktikum
3.2.1.  Alat     
a.       Kompor dan panci digunakan untuk merebus/megkukus bahan baku pembuatan pakan.
b.      Kantong saringan/ kain digunakan untuk menyaring serta memeras kandungan air pada bahan.
c.       Timbangan duduk digunakan untuk menimbang bobot bahan yang digunakan.
d.      Karung digunakan untuk menjemur bahan baku.
e.       Mesin penggiling digunakan untuk menghaluskan bahan-bahan menjadi tepung.
f.       Mesin pencetak pakan digunakan untuk mencetak pakan.
g.      Cawan porselen sebagai wadah/media pakan yang akan diuji.
h.      Desikator sebagai pendingin peralatan setelah dioven.
i.        Oven digunakan sebagai alat strelisasi serta pengeringan kadar air dalam pakan.
j.        Soxhlet extractor alat uji proksimat lemak/labu penampung kadar lemak yang diukur dalam pakan.
k.      Akuarium digunakan untuk memlihara ikan pada uji biologis sekaligus media uji daya tenggelam pakan.
l.        Botol+aerator+ stopwatch digunakan sebagai alat uji lama waktu hancur pakan.
m.    Timbangan analitik digunakan mengukur bobot ikan dan dosis pakan yang diberikan pada uji biologis.
3.2.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
a.    Air sebagai bahan pengkukus dan merebus serta mencuci bahan.
b.   Kedelai, jagung dan ikan lemuru sebagai bahan baku pembuatan pakan.
c.    Etanol sebagai pelarut lemak dalam uji kadar lemak pakan.
3.3. Prosedur Kerja
3.3.1. Persiapan bahan pembuatan pakan
1.      Mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2.      Ikan dibersihkan dan dicuci.
3.      Ikan ditimbang seberat 2000 g.
4.      Ikan direbus selama 15 menit dalam air mendidih.
5.      Ikan diperas menggunakan kain hingga kadar air dan minyak tidak ada.
6.      Ikan dicincang kecil-kecil.
7.      Ikan dijemur selama 5 hari hingga benar-benar kering.
8.      Ditimbang berat kering ikan dan ditentukan nilai penyusutannya.
9.      Dijemur kedelai dan jagung hingga kering.
10.  Ikan, jagung, dan kedelai masing-masing digiling menjadi tepung.
3.3.2.   Pembuatan pakan
1.   Mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2.   Masing-masing ditimbang tepung ikan 300 g, tepung jagung 350 g, dan tepung kedelai 350 g.
3.   Dicampur ketiga tepung yang telah ditmbang sebelumnya dan ditambahkan air 500 ml (membuat adonan pakan).
4.   Adonan pakan dikukus selama 30 menit.
5.   Adonan pakan dicetak dengan mesin pencetak.
6.   Pakan yang sudah dicetak dikeringkan.
3.3.3.   Teknik pengujian kadar lemak
1.      Dipanaskan labu ekstraksi dalam oven pada suhu 110 oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang berat labu.
2.      Ditimbang 3 - 5 g sampel pakan, dimasukkan ke dalam selongsong dan soxhlet, diletakkan pemberat diatasnya.
3.      Dimasukkan etanol 100 - 150 ml ke dalam soxhlet sampai selongsong terendam dan sisa methanol masuk ke dalam labu.
4.      Labu yang telah disambungkan dengan soxhlet dipanaskan dengan kompor listrik sampai cairan yang merendam bahan dalam soxhlet bewarna kuning.
5.      Labu dilepaskan, dan tetap dipanaskan hingga etanol menguap.
6.      Labu yang mengandung sisa lemak dipanaskan dalam oven selama 15-60 menit, kemudian didinginkan dalam desikator selama 15 - 30 menit dan ditimbang.
7.      Persen kadar lemak dihitung (%)
= x100%
3.3.4.      Teknik analisa kadar air
1.   Cawan porselen dioven selama 1 jam dengan suhu 110 0 C.
2.   Ditimbang berat cawan dan dicatat sebagai berat awal.
3.   Ditimbang sampel pakan seberat 1 g pada cawan tadi,
4.   Dipanaskan/dioven selama 2 jam pada suhu 110 0C.
5.   Didinginkan di dalam desikator selama 30 menit.
6.   Ditimbang berat cawan yang berisi sampel  dan dicatat beratnya.
7.   Dipanaskan kembali cawan yang berisi sampel dan diulang seperti langkah 5 - 6 sampai berat antara pengeringan tadi maksimal 0,3 mg.
8.   Kadar air (%) dihitung dengan :
     Kadar air
Keterangan :
A     = Berat cawan (g)
B     = Berat sampel (g)
C     = (berat cawan + berat sampel) setelah dipanaskan (g).
3.3.5.   Teknik analisa kualitas fisik
3.3.5.1.    Pengamatan melalui indera penglihatan
1.   Sampel pakan yang diamati ditempatkan pada cawan petri.
2.   Dicatat morfologi pakan (bentuk,warna, adanya benda asing, tingkat kehalusan).
3.   Dilakukan tiga kali pengamatan (tiga ulangan)
3.3.5.2.    Pengamatan melalui indera pembau
1.Disiapkan sampel pakan.
2.Dicium aromanya serta baunya (memiliki aroma yang khas atau berbau tengik).
3.Dicatat dalam tabel hasil pengamatan.
4.Dilakukan tiga kali pengamatan (tiga ulangan).
3.3.5.3.    Pengamatan melalui indera pengecap
1.   Disediakan sampel pakan.
2.   Pakan digigit dan diraba dengan lidah (gatal atau tidak serta halus atau kasar butirannya).
3.   Diulang sebanyak tiga kali.

3.3.5.4.   Uji daya tahan pakan dalam air
1.    Disiapkan set alat uji yaitu, botol yang berisi air dengan aerasi.
2.    Dimasukkan satu butir pakan (panjang 1 cm)
3.    Dihitung lama waktu pakan patah menjadi dua bagian dengan stopwatch.
4.    Dihitung lama waktu pakan hancur/lebur (minimal bagian pakan yang patah pecah menjadi tujuh bagian).
5.    Diulang sampai tiga kali pengamatan.
3.3.5.5.   Uji daya apung dan laju tenggelam pakan
1.   Disiapkan akuarium dan diisi air sampai ketinggian 20 cm.
2.   Dimasukkan satu butir pakan (panjang 1 cm) kemudian dihitung lama waktunya mengapung menggunaka stopwatch.
3.   Dihitung periode tenggelam menggunakan stopwatch (mulai saat beranjak dari waktu apung).
4.   Diulang sebanyak tiga kali pengamatan
3.3.6.   Uji biologis
1.      Ikan ditimbang berat awalnya sebelum dipelihara di akurium
2.      Ikan dipelihara di akuarium ± 2 minggu dan diberi pakan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore. Dengan pemberian pakan 5 % dati bobot tubuh ikan
3.      Dilakukan penyifonan sekali dalam 2 hari dan pergantian air total tiap minggu
4.      Dilakukan pengukuran setiap minggu
5.      Dihitung Laju pertumbuhan mutlak ikan dengan rumus:
Wt – w0
Dimana: wt : Bobot rata- rata ikan pada akhir percobaan
            Wo : Bobot rata- rata ikan pada awal percobaan



BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
. Hasil Pengamatan
Kelompok
Perlakuan
Komposisi (g)
Pengukusan
Perebusan
Tepung ikan
Tepung kedelai
Tepung jagung
Tepung tapioka
1
ü   

500
200
300
-
2
ü   

500
200
270
30
3
ü   

300
350
350
-
4
ü   

300
300
370
30
5

ü   
500
200
300
-
6

ü   
500
200
270
30
7

ü   
300
350
350
-
8

ü   
300
300
370
30
Tabel 4.1. Komposisi dan perlakuan pakan

Tabel 4. 2. Penyusutan bahan baku ikan
Kelompok
Berat basah
Berat kering
Penyusustan
5
2 kg
600 g
70%
6
2 kg
500 g
75%
7
2 kg
550 g
73%
8
2 kg
800 g
60%
3
2 kg
600
70%

Tabel 4.3. Kadar air pakan
Kelompok
Kadar air (%)
Rata-rata (%)
Ulangan ke
1
2
3
1
4,82
6,92
4,63
5,45
2
12,301
11,122
11,13I
11,518
3
10,107
9,754
9,384
9,748
4
10,4
10,48
-
10,44
5
3,18
5,57
3,57
4,08
6
7,5
1,28
8,87
6,03
7
8,3
-
7,9
8,1
8
7,4
7,6
-
7,5

Tabel 4.4  Kadar lemak pakan
Kelompok
Kadar lemak (%)
1
13,3
2
17
3
17,534
4
17,3
5
23,64
6
15,97
7
18,9
8
22,1

Tabel 4. 5. Pengamatan  pakan dengan indera penglihatan
Uraian
Pakan kelompok
5
6
7
8
Ada atau tidaknya benda lain dalam pakan
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tingkat kehalusan permukaan butiran pakan
Permukaan kasar
Permukaan kasar
Permukaan halus
Permukaan kasar
Warna pakan
Ada warna lain yang bukan khas pakan
Ada warna lain yang bukan khas pakan
Warna merata
Ada warna lain yang bukan khas pakan
Morfologi pakan
Pakan memilki lubang di permukaan
Pakan memilki lubang di permukaan
Pakan memilki lubang di permukaan
Pakan memilki lubang di permukaan


Tabel 4.6 Pengamatan dengan indera penciuman
Uraian
Pakan kelompok
5
6
7
8
Aroma
Aroma khas yang kuat
Aroma khas yang kuat
Aroma khas yang kuat
Aroma khas yang kuat
Bau tengik
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada







Uraian
Pakan kelompok
5
6
7
8
Rasa
Tidak terasa gatal
Tidak terasa gatal
Tidak terasa gatal
Tidak terasa gatal
Butiran pakan
Terasa lembut dan mudah patah
Terasa lembut dan mudah patah
Terasa lembut dan mudah patah
Terasa lembut dan mudah patah
Tabel 4.7. Pengamatan dengan indera pengecap

Tabel 4.8. Pengamatan daya apung pakan
Uraian
Kelompok
Rerata Waktu yang diperlukan (menit)


Lama mengapung
1
160,2
2
5,01
3
84,28
4
167,73
5
8
6
52
7
23,96
8
26
Saat tenggelam
1
160,2
2
5,05
3
84,29
4
167,76
5
143,95
6
52,49
7
23,98
8
27,1




Tabel 4.9. Pengamatan daya tahan pakan
Uraian
Kelompok
Rerata Waktu yang diperlukan (menit)


Pakan mulai patah menjadi dua
1
73
2
18,01
3
292
4
93
5
30,26
6
54
7
33
8
43,05
Pakan mulai hancur
1
186,5
2
35,5
3
427
4
360,83
5
102,4
6
72
7
81,5
8
139,16

Tabel 4.10. Hasil uji biologis
Kelompok
Berat rata-rata ikan (g)
Pertumbuhan berat mutlak (g)
Berat awal
Berat akhir
3
21,67
21,99
0,32
5
18,60
19,87
1,27
6
14,96
22,28
7,32
7
21,93
25,48
3,55
8
21,95
22,46
0,51







4.2.    Analisa Data
4.2.1.   Penyusutan berat bahan ikan
Berat awal = 2000 g
Berat setelah pengeringan = 550 g
Penyusutan = x100% = 72,5 %
4.2.2. Perhitungan kadar air
Tabel 4.11. Bobot sampel pakan uji
Cawan ke-
Berat cawan (g)
A
Berat sampel (g)
B
A+B
(g)
Berat setelah dipanaskan  (g)

C
Berat setelah dipanaskan lagi 
(g)
1
0,42
1,0062
1,4269
1,3432
1,3460
2
0,668
1,0028
1,6696
-
-
3
1,6645
0,9990
2,635
2,5865
2,5865

Kadar air
Ulangan 1 Kadar air    = 8,3 %
Ulangan 2 Kadar air =  = 7,9 %
 Rata-rata kadar air =  = 8,1 %
4.2.3. Perhitungan kadar lemak
Diketahui :
Berat labu awal : 277,73 g
Berat labu akhir : 278,32 g
Berat sampel : 3,001 g
Kadar lemak Lemak =
Kadar lemak Lemak =  = 18,9 %
4.2.4. Perhitungan berat mutlak ikan
Dik : W0 =21,93 g ; Wt= 25,48 g 
Berat mutlak = wt - w0
Berat mutlak = 25,48 g – 21,93 g
Berat mutlak = 3,55 g


















4.3.   Pembahasan
4.3.1. Pembuatan pakan
4.3.1.1.   Bahan baku  dan komposisi pakan
Pada praktikum ini pakan dibuat dalam bentuk pelet. Kajian utama dalam praktikum ini adalah teknik pembuatan pakan dengan beberapa bahan yang dibuat dengan komposisi serta perlakuan berbeda secara kelompok ( lihat tabel 4.1.).
Lusiawiaty (2008) menyatakan faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan pembuatan pakan ikan adalah memilki nilai nutrisi sesuai kebutuhan ikan, mudah diperoleh dan selalu tersedia, mudah diolah dan dibentuk, tahan lama, bukan zat antinutrien. Pakan yang dibuat adalah dengan komposisi 300 g tepung ikan, 350 g tepung kedelai, dan 350 g tepung jagung dan 250 ml air sehingga total pakan yang dibuat adalah 1000 g. Tepung ikan dibuat dari ikan teri hijau yang direbus selama 15 menit. Fathia (2009) menyatakan bahwa “kandungan nutrisi dari bahan baku alami tepung ikan teri mengandung 63, 76% protein, 4,1% karbohidrat, 3,7% lemak. Tepung kedelai mengandung 39,6% protein, 29,5% karbohidrat, dan 14,3% lemak. Tepung jagung mengandung 7,63% protein, 74,23% karbohidrat, dan 4,43 lemak.” Berdasarkan hal tersebut dapat dinyatakan bahwa tepung ikan dan kedelai adalah penyumbang protein terbesar dalam pakan yang dibuat, sedangkan tepung jagung berperan sebagai sumber karbohidrat sekaligus sebagai perekat pakan. Jagung memiliki serat yang mampu mengikat kestabilan air sehingga pakan tidak mudah lapuk atau rusak.
Proses pembuatan pakan dimulai dengan pengumpulan bahan, perebusan ikan dan pengeringan, pembuatan tepung sampai pada pembuatan pakan. Pada dasarnya perebusan dilakukan untuk proses sterlisasi dan proses pendegradasian komponen bahan menjadi lebih sederhana sehingga mudah diserap tubuh. Proses pemasakan baik dengan cara perebusan maupun pengukusan dapat mempengaruhi nilai morganoleptis produk konsentrat protein ikan khususnya terhadap tekstur. Menurut Saleh, dkk (1985) , bahwa tujuan pemasakan baik perebusan maupun pengukusan dilakukan untuk mengurangi kadar air dan mempertahankan mutu daging yaitu tekstur yang padat dan kompak. Akan tetapi proses perebusan yang terlalu lama dapat juga membuat komponen biokimia suatu bahan rusak atau larut karena panas. Komponen biokimia seperti protein dan enzim sanagat rentan terhadap panas  (Adiyanto, 2010). Setelah ikan direbus kemudian diperas dan dikeringkan untuk menghilangkan kadar air. Kandungan air mutlak diperlukan, akan tetapi dalam jumlah sedikit. Kelebihan air dalam pakan dapat menyebabkan pakan mudah rusak. Afrianto (2006) menyatakan bahwa air dalam bentuk bebas dapat menjadi penyebab kerusakan bahan makanan secara enzimatik, kimiawi dan mikrobiologis.

4.3.1.2.  Penggilingan dan pencampuran bahan
Sebelum penggilingan/penghalusan, bahan-bahan dipastikan harus sudah kering. Bahan yang digunakan saat praktikum sudah dijemur selama lima hari, Penggilingan dilakukan satu persatu untuk tiap bahan. Penghalusan bahan (pembuatan tepung) bertujuan untuk memperoleh ukuran yang relatif halus dan seragam. Bahan baku yang halus, selain mudah dicerna juga menghasilkan pakan yang relatif lebih kompak. Sebaliknya, bahan baku yang kasar relatif sulit dicerna dan dapat menyebabkan kematian ikan karena sering menyumbat kerongkongan hatau saluran pencernaan. Selain itu juga, dengan pengecilan ukuran maka luas permukaan pakan jadi bertambah besar sehingga kontak dengan enzim pencernaan dan daerah penyerapan (dinding usus ) akan bertambah besar pula,. Dengan demikian, energi pakan yang dapat diserap oleh tubuh ikan juga semakin meningkat. Aryani (2008) menyatakan bahwa ”Keuntungan lain dari proses penghalusan bahan baku pakan adalah panas yang ditimbulkan selama penghalusan dapat menginaktifkan beberapa senyawa toksik atau antinutrien. Pengurangan kadar air bahan baku selama proses penghalusan juga aka meningkatkan stabilitas bahan baku tersebut dalam mempermudah penyimpanan dan mempermudah penanganan selama proses pencampuran serta pencetakan”. Penghalusan bahan baku pakan akan menyebabkan bidang kontak bahan baku dan oksigen di udara bertambah luas sehingga meningkatkan laju oksidasi. Pencampuran bahan baku dimaksudkan agar seluruh bagian bahan yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama seperti komposisi yang telah direncanakan. Baha baku yang jumlah dan sifatnya bevariasi sering kali menimbulkan masalah dalam proses pencampuran. Semakin kecil dan seragam ukuran bahan baku pakan, semakin tinggi kemungkinan terbentuknya campuran yang homogen. Komponen esensisl (misalnya vitamin, mineral, dan obat) mempunyai diameter sangat halus sehingga dapat dapat tercampur secara homogen dengan bahan baku lainnya. Bahan baku yang relatif halus lebih memungkinkan terbentuknya campuran yang homogen. Bahan baku yang bersifat halus relatif tidak stabil dan memiliki muatan elektrostatik. Muatan yang dimilikinya menyebabkan partikel-partikel halus halus lainnya akan melekat sehingga terkonstentrasi di sekitar partikel bermuatan tersebut.
Bahan-bahan yang telah menjadi tepung dicampur sesuai komposisi yang ditetapkan. Pencampuran dilakukan dalam bak/ember kecil hingga homogen. Menurut Mahyudin (2008) ”Pencampuran bahan harus dilakukan secara bertahap, mulai dari bahan yang volumenya kecil hingga yang besar. Komponen yang berwarna sebaiknya dicmpur tarlebih dahulu karena dapat digunakan sebagai indikator homogenitas. Bahan baku yang berbentuk cairan dan banyak mengandung lemak sebaiknya dicampurkan setelah bahan baku yang berbentuk kering sudah tercampur rata. Partikel bahan yang berbentuk cairan dan bahan yang banyak mengandung lemak mempunyai kecenderungan menarik partikel lain untuk membentuk partikel baru yang berukuran relatif lebih besar. Apabila kedua bahan baku tersebut dicampurkan terlebih dahulu, campuran yang dihasilkan tidak akan homogen”. Pencampuran bahan baku dalam praktikum dilakukan sekaligus dan tidak bertahap hal ini dapat menyebabkan kualitas pakan yang kurang baik. Pencampuran pakan menggunakan tangan secara langsung. Anonim (2010) menyatakan bahwa ”proses pencampuran pakan yang tidak homogen dapat mengakibatkan pakan tidak dapat tahan lama di air dan partikel-partikel pakan mudah terlepas sehingga terjadi defisit salah satu nutrisi dalam pakan”.
4.3.1.3.    Pengukusan dan pencetakkan
Sebelum mencetak pelet, adonan pakan yang sudah dicampur terlebih dahulu dikukus selama 30 menit. Pengukusan dilakukan untuk meningkat kan sifat gelatin pada bahan terutama yang mengandung karbohidrat sehingga mampu merekatkan komponen-komponen pakan. Pencetakan bahan dilakukan untuk menghasilkan bentuk dan ukuran pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan. Ukuran pakan dan bentuk pakan harus sesuai dengan kebutuhan ikan. Pelet yang dibuat berbentuk slinder, bewarna kuning. Diameter 0,2 - 07 mm. Mesin yang digunakan adalah penggiling daging. Gejala yang terjadi saat pembuatan pakan adalah suhu pelet yang terbentuk hangat, dan terasa lebih lengket. Fandina (2008) menyatakan ”Selama proses pembuatan pakan akan terjadi peningkatan kadar air akibat penambahan air panas (35 – 40 %) atau perebusan / pengukusan (4 - 6%). Namun, hal ini perlu dilakukan untuk membuat bahan baku menjadi lebih kompak karena proses adhesi dan mempermudah proses pencetakan pelet. Selama proses pencetakan pelet akan terjadi kompresi dan ekstrusi yang dapat menikkan suhu bahan baku pakan  menjadi 72 oC dengan kadar air 17 – 18 %. Proses ekstrusi menghasilkan tekanan dan suhu tinggi sehingga akan menghasilkan pelet yang mampu terapung (Floating pellet) di permukaan air”.

4.3.1.4. Pengeringan
Tahap akhir dalam pembuatan pelet adalah tahap pengeringan. Pelet yang dihasilkan dari pencetakan segera dikeringkan. Proses pengeringan dilakukan hingga kadar air pakan mencapai 10 – 12%. Pakan dengan kadar air yang terlalu tinggi (Aw) kurang menguntungkan karena mudah ditumbuhi mikroba (jamur) dan disukai serangga. Sebaliknya, pakan dengan Aw rendah juga kurang menguntungkan karena akan terjadi peningkatan laju proses oksidasi dan pencokelatan. Pelet dijemur selama lima hari untuk mengurangi kadar air. Berat pelet yang dihasilkan adalah 925 g.
4.3.2.   Kadar air pakan
Air adalah komponen utama penyusun tubuh makhluk hidup sehingga mutlak diperlukan. Liviawaty & Afriyanto (2005) menyatakan bahwa pakan ikan harus dikeringkan hingga kadar air 10 - 12 %. Berdasarkan hasil praktikum, pakan dengan kadar air tertinggi adalah kelompok 2 sebesar 11, 418 %. Secara keseluruhan pakan yang dibuat setiap kelompok memilki kisaran kadar air rata-rata 4 - 11 %. Hal ini berarti kualitas pakan dari segi kadar air bagus sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Pakan pellet yang memiliki kadar air terlalu tinggi kurang menguntungkan karena mudah ditumbuhi mikroba dan disukai serangga. Pakan dengan kadar air yang rendah akan meningkatkan laju proses oksidasi. Kadar air dalam pelet dipengaruhi oleh kandungan air dalam bahan penyusunnya, proses perebusan/pengukusan, serta proses pencetakkan pakan. Fandina (2008) menyatakan bahwa Selama proses pembuatan pakan akan terjadi peningkatan kadar air akibat penambahan air panas (35 – 40 %) atau perebusan / pengukusan ( 4 - 6%).

4.3.3.   Kadar lemak pakan
Salah satu makronutrien yang diperlukan ikan adalah lemak. Lemak kasar dalam pakan adalah campuran beberapa senyawa yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak (ether, petroleum benzene, karbon tetra khorida dsb). Lemak mengandung unsur C, H dan O. Dalam perbandingan lemak lebih banyak mengandung C dan H daripada O. Lemak memberikan 2.25 kali energi lebih banyak dibanding dengan karbohidrat jika mengalami metabolisme karena lemak mengandung unsur H lebih banyak daripada unsur O. Berdasarkan hasil praktikum kadar lemak tertinggi adalah pada pakan kelompok 5 sebesar 23,64 %. Mahyuddin (2007) menyatakan bahwa kadar lemak yang baik untuk pakan Clarias sp. Adalah 4 - 16 % dengan energi dapat dicerna 85 - 95 %. Tingginya kadar lemak pada kelompok 5 diduga akibat pemerasan dan pengeringan bahan yang kurang. Perbedaan komposisi bahan dalam pakan menurut penulis tidak tepat dijadikan alasan tingginya kadar lemak kelompok 5, hal ini dikarenakan sumber lemak dari bahan sangat sedikit dan komposisinya antara kelompok hampir sama. Bahan yang dengan persentasi lemak terbesar adalah kedelai yaitu sebesar 14,3% sedangkan jagung dan ikan teri kering hanya mengandung 4 - 5 % lemak. Pakan dengan kadar lemak sangat tinggi tidak baik karena mempercepat oksidasi dan bau yang tengik.

4.3.4.      Sifat fisik pakan
Berdasarkan hasil pengamatan daya apung pakan, pakan yang paling lama mengapung untuk perlakuan perebusan adalah pakan kelompok 6 yaitu 52 menit 7 detik dan waktu sampai tenggelam adalah 52 menit 29 detik. Pakan kelompok 6 terbuat dari komposisi 500 g tepung ikan, 200 g tepung kedelai, 270 tepung jagung dan 30 g tepung tapioka. Pada pakan dengan perlakuan pengkukusan yang memilki waktu apung paling lama adalah pakan kelompok 4 yaitu 167,73 menit dan waktu tenggelam mencapai 167,76 menit. Pada tabel 7 dapat dilihat bahwa pakan yang dibuat dengan pengukusan bahan memiliki rata-rata waktu mengapung dan waktu tenggelam yang lebih lama dibandingkan pakan yang bahannya direbus. Perlakuan perebusan atau pengukusan bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi waktu mengapung atau waktu tenggelam, akan tetapi beberapa teknik dalam pembuatan, komposisi serta kandungan pakan perlu ditinjau. “Menurut Mudjiman dalam Cahyoko dkk (2009) bahwa pakan harus memilki daya tahan dan daya apung dalam air agar tidak langsung hancur dan tenggelam, oleh karena itu pakan harus memilki struktur yang halus kuat dan kompak”. Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditinjau faktor lain yaitu tingkat kehalusan bahan pakan atau pencampuran pakan merata atau tidak. Pakan yang halus akan memudahkan dalam pencampuran (homogenisasi) sehingga partikel-partikel pakan lebih mudah berikatan sehingga lebih rapat dan kompak, tidak mudah tenggelam. Menurut Mudjiman (2008) “ semakin lama daya apung dan daya tahan pakan maka pakan tersebut makin berkualitas, paling tidak pellet melayang selama 5 menit”. Akan tetapi kualitas pakan sangat bergantung pada jenis dan kebiasaan hidup ikan, ikan-ikan  jenis catfish (lele), perenag dasar, dan udang justru sangat bagus jika diberikan pellet yang cepat tenggelam. Pada uji daya tahan pakan dalam air, pakan yang paling cepat patah dan hancur adalah pakan kelompok 2 yaitu 18,01 menit patah dan 35,5 menit sudah mulai hancur. Komposisi pakan kelompok  2 adalah tepung ikan yang dikukus 500 g, tepung kedelai 200 g, tepung jagung 270 g, dan tapioka 30 g. Waktu hancur pakan dipengaruhi oleh kadar air pakan, dan kekompakkan pakan.
Setelah dilakukan uji organoleptik indera penglihatan dapat dinyatakan hampir semua pakan yang dibuat seragam kecuali warna. Morfologi, tingkat kehalusan, dan tidak adanya benda lain semua pellet kelompok memilki ciri yang hampir sama (lihat pada tabel 4.4.). Pada pellet kelompok 7 warna merata sedangkan pada kelompok 5,6, dan 8 warna tidak merata. Warna pelet yang tidak merata menunjukkan pelet yang dibuat belum homogen atau belum tercampur merata. Sebagaimana yang dijelaskan dalam teknik pencampuran (lihat 4.3.1.2.) pencampuran harus dilakukan sampai warna adonan pellet yang dibuat merata. Uji dengan indera pembau menunjukkan bahwa pellet seluruh kelompok memilki aroma yang khas dan tidak berbau tengik. Aroma yang khas sangat disukai ikan dan dapat meningkatkan nafsu makan ikan. Pakan tidak berbau tengik menandakan bahan ikan  yang digunakan masih segar. Bau tengik disebabkan oleh oksidasi lemak , pembusukkan protein yang dipicu oleh tingginya kadar air (Anonim, 2010). Uji pellet dengan indera pengecap semua kelompok menunjukkan hasil yang sama yaitu butiran pakan halus dan tidak terasa gatal di lidah.

4.3.5.   Uji Biologis
Uji biologis kualitas pakan pada hakekatnya adalah menentukkan sejauh mana pakan / pelet yang diberikan mempengaruhi pertumbuhan ikan (panjang dan berat). Effendi (2002) menyatakan bahwa pertumbuhan adalah perubahan dimensi  sel organ maupun makhluk hidup yang mengakibatkan pertambahan bobot atau panjang dalam waktu tertentu. Kordi (2006) menyatakan bahwa salah satu yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah kandungan nutrisi yang dikandung dalam pakan ikan yang diberikan. Kandungan nutrisi pakan akan mempengaruhi pertumbuhan ikan.  Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila. Ikan nila merupakan ikan omnivora pemakan sumber nabati atau hewani. Kebiasaan makan ikan nila saat benih ialah memakan di perairan dangkal sedangkan setelah dewasa nila cenderung mampu mencari makan hingga dasar perairan, untuk itu pakan yang baik untuk nila adalah pakan yang mengapung dan tahan lama di air (DKPD Sulteng, 2006). Pakan ikan nila adalah pakan buatan dapat berupa pellet dengan kadar protein 28 - 35% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%. (DKPD Sulteng, 2006). Hal tersebut dapat dibandingkan dengan kadar lemak yang diperoleh dari pakan kelompok penulis yaitu 18, 9 %. Berarti pakan yang dibuat dilihat dari kadar lemaknya tidak layak atau kualitasnya tidak sesuai dengan kebutuhan lemak nila. Berat mutlak yang diperoleh selama pemeliharaan adalah 3,55 g. jika dibandingkan dengan berat mutlak ikan pada kelompok lain maka berat mutlak tertinggi diperoleh kelompok 6 yaitu 7,17 g.  perbedaan pertumbuhan ikan yang diperoleh pada tiap kelompok tidak semata dipengaruhi oleh pakan yang diberikan akan tetapi teknik pemeliharaan meliputi control air (penyiponan, pergantian air), dan waktu pemberian pakan dari tiap kelompok yang berbeda.








BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum dan pembahasan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.   Kualitas dan komposisi bahan baku akan meningkatkan kualitas pakan.
2.   Teknik pencampuran adonan pakan memilki pengaruh terhadap kekerasan dan daya apung pakan dalam air.
3.   Kadar lemak dalam pakan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pakan tersebut mudah rusak teroksidasi dan bau (4 – 5 %).
4.   Kualitas pakan yang baik adalah dengan kadar air rendah yaitu 9 – 12 %.
5.   Pakan yang berkualitas adalah pakan yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan ikan dan dengan tingkat konversi pakan yang rendah.

5.2.   Saran
Adapun beberapa hal yang penulis sarankan adalah :
1.   Sebaiknya penggunaan bahan baku dalam praktikum lebih bervariasi agar dapat diketahui pula kualitas berbagai bahan dalam pembuatan pakan.
2.   Sebaiknya jumlah ikan yang digunakan dalam uji biologis jumlahnya diperbanyak agar hasilnya lebih akurat.
3.   Sebaiknya pakan yang dibuat dibandingkan dengan pakan komersil yang dijual di pasaran agar dapat mengetahui sejauh mana kualitas pakan yang dibuat dalam praktikum.


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar